Belajar Adzan Tak Harus Irama Merdu

Belajar Adzan Tak Harus Irama Merdu. Alhamdulillaah, saya sendiri merasa bersyukur karena saat ini banyak sekali muncul para muadzin di Indonesia. Beberapa bahkan viral melalui youtube. Berbeda dengan saat saya masih kecil, yang waktu itu hanya mengenal H. Muammar Zainal Asyikin sebagai pelantun adzan terbaik.

Ya, bisa jadi tak hanya beliau yang saat itu populer. Namun bagi saya, Muammar ZA adalah Qori serta Muadzin favorit. Jika waktu itu sudah ada media sosial atau youtube, mungkin juga akan banyak pengumandang adzan menjadi viral seperti saat ini.

Belajar Adzan Tak Harus Irama Merdu
Ilustrasi Muadzin Sedang Mengumandangkan Adzan

Pengalaman Pertama Belajar Adzan

Saat ini, saya mengenalnya dengan istilah Takmir Masjid. Ketika saya masih menempuh pendidikan di sekolah dasar kelas 3 (tiga), kakek saya memang memiliki kegiatan salah satunya adalah mengurusi masjid dekat tempat tinggal kami waktu itu. Sesekali juga menjadi Imam sholat, biasanya shubuh, dzuhur dan ashar. Di ketiga waktu sholat tersebut, saya biasa diajak oleh kakek ke masjid untuk ikut sholat berjamaah.

Karena kakek saya memang memiliki gangguan pernafasan, saya kadang kasihan melihat serta mendengarkan adzan beliau dengan suara terpenggal-penggal serta nafas yang sepertinya sulit. Lalu suatu waktu, saya memberanikan diri untuk meminta izin menggantikan beliau. “Alhamdulillaah, sok engke diajar heula jeung aki, kudu bener lafadzna“. Artinya : “Alhamdulillaah, ya nanti belajar dulu sama kakek, harus benar lafadznya”. Hingga saat ini, saya masih mengingat dengan baik dan jelas momen pengalaman pertama kali saya belajad adzan tersebut.

Sempat Menjadi Muadzin Masjid di Kampung Halaman

Setelah saya dianggap bisa adzan, barulah kakek saya mengizinkan untuk menggantikan. Hanya dzuhur saja waktu itu, namun seiring waktu, akhirnya saya diizinkan untuk ber-adzan di waktu sholat yang lain. Bahkan beberapa waktu kemudian menjadi muadzin di masjid tersebut untuk 5 waktu sholat. Tidak hanya itu, bahkan saya juga ditugasi untuk memukul bedug, beberapa saat sebelum waktu sholat tiba. Waktu itu memang belum mengenal alat penanda waktu modern berupa jam sholat seperti sekarang.

Hal Paling Penting Saat Belajar Adzan

Dari pengalaman pribadi seperti yang disampaikan kisahnya secara singkat di atas, hal paling utama dalam mengumandangkan adzan sebagai penanda waktu sholat bukanlah iramanya, namun lafadz serta pengucapannya harus benar dan baik. Ini mutlak, paling tidak bagi saya pribadi. Walaupun saya sendiri belum tentu sudah benar 100%, namun yang ingin saya coba tanamkan di sini adalah :

Pahami benar dan ucapkan dengan baik lafadznya, barulah memilih irama yang sesuai dengan karakter suara.

Belajar adzan tak harus merdu

Sebagai pelengkap pengetahuan tentang bagaimana lafadz serta pengucapan adzan yang baik, silahkan mengakses tulisan sebelumnya tentang : Lantunan Adzan Irama Kurdi Bagi Pemula.

Belajar Adzan itu, tak KENAL BATAS USIA

Satu lagi ucapan kakek saya yang masih saya ingat hingga sekarang : “Adzan itu penanda waktu mulia, wajib hukumnya bagi semua mukmin yang mengetahui, jika tak ada satupun yang menunaikan, maka berdosalah semua mukmin dalam satu kawasan tersebut“. Entah ini adalah hadits atau apa, sampai saat ini saya masih belum terlalu faham benar, barangkali pembaca ada yang tahu?

Termasuk bagi saya sendiri, jika memang Allah SWT berikan kesempatan baik tersebut, maka tak ada ruginya untuk selalu belajar melafalkan lafadz adzan secara baik dan benar.

Berbeda dengan mengajarkan, saya sendiri kesulitan dengan bagaimana caranya untuk mengajarkan adzan kepada siapapun. Salah satu ide saya menulis artikel ini juga karena kebetulan beberapa waktu yang lalu, saya pernah diminta untuk mengajarkan adzan kepada anak-anak di sekitar tempat saya tinggal saat ini. Bagaimana cara mengajarkannya ya? sementara saya sendiri cara belajarnya dulu hanya sebatas mendengarkan lafadz adzan dari kakek saya.

Tapi baiklah, sebagai bentuk rasa syukur, saya akan mencoba memberikan semacam tutorial adzan berupa video di bawah ini.

— Video sedang dalam proses pembuatan —

Sesuaikan Irama Adzan dengan Karakter Suara dan Kekuatan Nafas

Walaupun irama bukan segalanya dalam melantunkan adzan, namun sepertinya akan lebih menarik dan menyentuh hati jika lafadz adzan dilantunkan secara merdu. Pilih irama adzan yang sesuai dengan karakter serta nafas. Sebagai pelengkap, berikut adalah beberapa jenis irama adzan yang dapat dipelajari bahkan kita tirukan dengan cukup mudah. Namun sekali lagi, ucapkan lafadz adzan secara benar termasuk juga hukum panjang dan pendeknya sebelum memilih irama yang cocok untuk dikumandangkan.

3 Irama Adzan yang mudah untuk dipelajari serta dilantunkan :

  1. Irama Adzan Bayyati Husaini
  2. Irama Adzan Shoba
  3. Irama Adzan Jiharkah

Belajar Adzan Tak Harus Irama Merdu

Belajar Adzan Untuk Anak

Walaupun di atas saya sempat menyampaikan bahwa tidak punya metode khusus dalam hal bagaimana cara mengajarkan adzan yang baik terutama bagi anak-anak. Namun, sebagai teorinya dapat saya coba sampaikan kira-kira seperti dibawah ini tahapan mudahnya.

  • Berlatih Olah Napas : Jika memungkinkan, ada dua jenis olah pernapasan yang dapat diterapkan sebelum anak berlanjut untuk belajar adzan. Yakni, jenis olah napas dada dan perut (diafragma).
  • Pemantapan Lafadz Adzan : Pada tahap ini, tak perlu menggunakan nada atau irama terlebih dahulu. Yang terpenting, anak dapat menguasai pengucapan lafadz adzan secara baik serta benar.
  • Berlatih Olah Nada : Pilih irama yang sekiranya paling mudah untuk dapat segera diterapkan. Perlu diingat, tak semua anak memiliki kemampuan untuk melakukan olah nada. Tak perlu dipaksakan.

Tak mudah memang, tapi jika diterapkan secara istiqomah dan sabar, insyaAllah teori cara mengajarkan adzan yang baik untuk anak-anak juga tak sulit. Terus terang saya sendiri belum pernah mencobanya, sih. Hanya sebatas punya teorinya saja. Jika pembaca bersedia menerapkan teori di atas, beritahu hasilnya nanti, ya ๐Ÿ™‚ — Semoga dimudahkanNYA —

Belajar Adzan Tak Harus Irama Merdu

Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat bagi siapapun yang sempat membacanya. Tak ada maksud murni mengajari, karena saya sendiri masih selalu dalam tahap belajar dan memperbaiki lafadz adzan, terutama dari sisi pengucapan huruf serta hukum panjang-pendeknya. Jika ada kekurangan atau tambahan, silahkan sampaikan pada kolom komentar, ya. Terima kasih sebelumnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.